Beritakota.id, Jakarta – Didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP), Sawit Academy EPS. UB kembali menghadirkan diskusi ilmiah untuk meluruskan isu deforestasi dan keberlanjutan industri sawit Indonesia melalui pendekatan akademik berbasis data.

Kegiatan yang digelar Hai Sawit Indonesia bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi sawit di kalangan generasi muda. Forum akademik tersebut menekankan pentingnya analisis ilmiah dalam memahami berbagai isu yang kerap dilekatkan pada sektor kelapa sawit nasional.

Salah satu materi utama disampaikan oleh Yanto Santosa, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University. Dalam paparannya bertajuk “Dari Tuduhan Menuju Pemahaman: Meluruskan Isu Sawit melalui Pendekatan Akademik dan Berbasis Data”, ia mengulas sejumlah tudingan terhadap industri sawit, mulai dari konversi hutan primer, penurunan keanekaragaman hayati, hingga anggapan bahwa sawit menjadi pemicu utama deforestasi global.

Menurutnya, pemahaman mengenai deforestasi harus merujuk pada definisi lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Bank, serta regulasi nasional yang mendefinisikan deforestasi sebagai perubahan permanen kawasan berhutan menjadi non-hutan akibat aktivitas manusia.

“Karena itu, perlu kajian ilmiah yang cermat terhadap status, riwayat, dan tutupan lahan sebelum dikonversi menjadi perkebunan sawit,” jelasnya di Malang, Sabtu (21/2).

Melalui perbandingan data laju deforestasi dan perluasan kebun sawit di berbagai pulau di Indonesia, Prof. Yanto menegaskan bahwa tidak seluruh pengembangan sawit berasal dari hutan primer. Sejumlah kajian historis tata guna lahan menunjukkan banyak perkebunan sawit berkembang di lahan terdegradasi maupun pada bekas penggunaan lahan lainnya.

Ia juga mengutip kajian Komisi Eropa tahun 2013 yang mencatat bahwa dari total 239 juta hektare deforestasi global periode 1990–2008, sekitar 58 juta hektare disebabkan sektor peternakan, 13 juta hektare oleh kedelai, 8 juta hektare oleh jagung, dan sekitar 6 juta hektare atau sekitar 2,5 persen oleh sawit.

“Artinya, kita perlu melihat posisi sawit secara proporsional dalam konteks deforestasi global, berbasis data, bukan sekadar persepsi,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perubahan fungsi hutan juga dipengaruhi faktor historis dan kebijakan masa lalu, termasuk program transmigrasi dan pemberian konsesi kehutanan. Karena itu, penyederhanaan persoalan dengan hanya menyalahkan sawit dinilai tidak mencerminkan kompleksitas tata guna lahan yang berlangsung selama beberapa dekade.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa yang mengangkat isu keberlanjutan, biodiversitas, hingga tantangan global industri sawit Indonesia. Dialog tersebut menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dan literasi sawit berbasis data dalam membangun pemahaman yang utuh dan berimbang.

Melalui Sawit Academy EPS. UB, Hai Sawit Indonesia bersama dukungan BPDP berkomitmen menghadirkan lebih banyak forum diskusi akademik di lingkungan kampus guna memperkuat literasi sawit yang objektif, kritis, dan konstruktif di Indonesia. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *