Beritakota.id, Sydney – Pergerakan pasar valuta asing global memasuki babak baru setelah Federal Reserve mengirimkan sinyal yang lebih hawkish dari perkiraan, mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan aset berisiko di seluruh dunia. Meski demikian, dolar Australia (Aussie) dan dolar Selandia Baru (Kiwi) berhasil menahan tekanan pada perdagangan Kamis setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memulihkan selera risiko investor.

Dolar Australia menguat 0,3 persen ke level US$0,7037 setelah sebelumnya anjlok hampir 0,8 persen pada sesi sebelumnya. Sementara itu, dolar Selandia Baru naik 0,5 persen menjadi US$0,5793 setelah sempat menyentuh level terendah sejak awal April.

Pemulihan kedua mata uang tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara yang memperpanjang gencatan senjata. Langkah tersebut memicu penurunan harga minyak dunia dan mendorong rebound pasar saham global setelah beberapa pekan dihantui ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.

Namun, sentimen positif tersebut masih dibayangi perubahan sikap Federal Reserve yang mengejutkan pasar.

Dalam pertemuan terbarunya, bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuannya. Akan tetapi, proyeksi ekonomi terbaru menunjukkan hampir setengah pejabat The Fed kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini. Pandangan tersebut berbalik tajam dibandingkan Maret lalu ketika mayoritas pejabat masih memperkirakan penurunan suku bunga.

Baca juga : Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Industri Tertekan hingga Ancaman Harga Kebutuhan Naik

Sinyal tersebut langsung mengguncang pasar keuangan global. Saham dan obligasi mengalami tekanan jual, sementara dolar AS menguat tajam karena investor mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika.

Pasar berjangka kini sepenuhnya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga AS pada Oktober mendatang. Kondisi itu membuat perbedaan imbal hasil kembali berpihak pada dolar AS dan meningkatkan daya tarik aset-aset berdenominasi greenback.

Analis TD Securities bahkan menyatakan mereka tidak lagi memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter dalam horizon proyeksi mereka. Menurut lembaga tersebut, dolar AS berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek, sementara mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko, termasuk dolar Australia, menjadi salah satu yang paling rentan terhadap tekanan.

Selandia Baru Memiliki Cerita Berbeda

Data ekonomi terbaru menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Selandia Baru tumbuh 0,8 persen pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,5 persen pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, ekonomi Negeri Kiwi tumbuh 1,5 persen, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,1 persen.

Kinerja tersebut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi Selandia Baru mulai keluar dari fase perlambatan sebelum konflik AS-Israel-Iran mengguncang perekonomian global. Sejumlah ekonom bahkan menilai bank sentral Selandia Baru atau Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) mulai memiliki ruang untuk kembali menormalkan kebijakan moneternya.

Pasar swap saat ini memperkirakan peluang sekitar 80 persen bahwa RBNZ dapat mulai menaikkan suku bunga pada Juli. Secara keseluruhan, investor memperhitungkan pengetatan sekitar 60 basis poin hingga akhir tahun.

Situasi ini berbeda dengan Australia. Reserve Bank of Australia (RBA) baru saja mempertahankan suku bunga pada level 4,35 persen dan pasar mulai meragukan kemungkinan kenaikan lanjutan. Peluang satu kali kenaikan tambahan kini turun menjadi sekitar 50 persen.

Perbedaan arah kebijakan antara RBNZ dan RBA mulai menjadi perhatian investor global. Jika tren ini berlanjut, dolar Selandia Baru berpotensi memperoleh dukungan lebih kuat dibandingkan dolar Australia dalam beberapa bulan mendatang.

Bagi pasar global, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa fokus investor kini tidak lagi hanya tertuju pada konflik geopolitik, melainkan kembali bergeser pada arah kebijakan bank sentral dunia. Setelah beberapa bulan berharap era suku bunga tinggi segera berakhir, sinyal terbaru dari Federal Reserve justru mengingatkan bahwa perjuangan melawan inflasi mungkin masih belum selesai. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *