Beritakota.id, Brebes – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Brebes mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi ancaman musim kemarau. Pemerintah daerah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari irigasi, perpompaan hingga penerapan teknologi budidaya modern untuk menjaga produktivitas pertanian.

Kepala DPKP Kabupaten Brebes, Hendri Komara melalui Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Azmi Mustofa, mengatakan hingga kini belum ada laporan resmi mengenai dampak kekeringan dari petugas penyuluh lapangan (PPL). Namun, kondisi di sejumlah wilayah menunjukkan adanya penurunan ketersediaan air.

“Belum ada laporan resmi dari petugas penyuluh lapangan (PPL). Namun, berdasarkan informasi di lapangan, di wilayah tengah sumber air di Babakan sudah mulai menipis,” kata Azmi, Jumat (17/7).

Menurut Azmi, persoalan utama yang dihadapi petani bukan hanya faktor musim kemarau, tetapi juga berkurangnya pasokan air akibat kerusakan bendungan yang menjadi sumber irigasi lahan pertanian.

“Kendala petani saat ini lebih kepada ketersediaan sumber air. Ada beberapa sumber irigasi yang terganggu karena kerusakan bendungan air,” ujarnya.

Menurut Azmi, berdasarkan data DPKP Brebes, pada musim kemarau 2023 luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan mencapai 1.902,63 hektare. Lahan terdampak tersebar di sejumlah kecamatan, dengan wilayah terluas berada di Kecamatan Banjarharjo mencapai 500 hektare, Losari 292 hektare, Bulakamba 260 hektare, dan Tanjung 240 hektare.

Menghadapi potensi kemarau ekstrim, kata dia, DPKP Brebes menjalankan sejumlah langkah antisipasi sesuai arahan Kementerian Pertanian. Salah satunya melalui irigasi perpompaan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian yang mengalami keterbatasan pasokan.

Lanjut dia, selain mengandalkan dukungan infrastruktur pengairan, pemerintah juga mendorong petani memaksimalkan teknologi pertanian modern. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Pertanian Modern Advance System (PMAS) melalui metode tanam benih langsung dengan pola jajar legowo.

Azmi menjelaskan, pola tersebut menerapkan enam baris tanaman yang diselingi satu baris kosong untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas.

“Dengan teknologi ini produktivitas menjadi lebih baik. Hasilnya bisa mencapai sekitar 10 ton gabah per hektare,” kata dia.

Menurut Azmi, penerapan teknologi budidaya modern menjadi salah satu strategi agar sektor pertanian tetap produktif di tengah keterbatasan sumber daya air.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi kemarau 2026 berpotensi lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Di wilayah Jawa Tengah, tingkat kekeringan diperkirakan berada pada kategori menengah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan memastikan produksi pangan tetap berjalan selama musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *