Beritakota.id, Jakarta – Biaya pendidikan tidak pernah turun—ia hanya menunggu untuk kembali naik. Di tengah inflasi sektor pendidikan yang terus bergerak, keluarga Indonesia dihadapkan pada satu kenyataan pahit: pendidikan anak adalah pengeluaran wajib yang nilainya semakin mahal, sementara pendapatan tidak selalu tumbuh seirama. Data BPS Juli 2025 mencatat inflasi pendidikan sebesar 1,95 persen, dengan lonjakan tertinggi pada jenjang PAUD dan pendidikan dasar. Ini bukan sekadar statistik, melainkan tekanan nyata di meja makan keluarga.

Masalah utama banyak orang tua bukan semata kurang penghasilan, melainkan rendahnya literasi pengelolaan dana pendidikan. Pendidikan kerap diperlakukan sebagai biaya rutin, bukan sebagai proyek keuangan jangka panjang. Akibatnya, banyak keluarga baru bereaksi ketika anak memasuki usia sekolah, saat ruang manuver finansial sudah sempit.

Literasi keuangan yang sehat dimulai dari perubahan cara pandang. Dana pendidikan bukan tabungan biasa, melainkan kombinasi antara perencanaan waktu, pengelolaan risiko, dan strategi pertumbuhan dana. Orang tua perlu memahami bahwa inflasi pendidikan bersifat struktural—ia hampir selalu lebih tinggi dari inflasi umum—sehingga menyimpan dana di tabungan saja justru berisiko menggerus nilai riil uang.

Baca juga : IFG Soroti Tantangan dan Peluang Industri Asuransi Nasional

Dalam konteks ini, menyisihkan 5–10 persen penghasilan bulanan untuk dana pendidikan bukan tujuan akhir, melainkan fondasi disiplin. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana dana tersebut dikelola agar tetap relevan dengan tujuan jangka panjang. Instrumen investasi dapat membantu pertumbuhan dana, namun investasi tanpa proteksi justru menciptakan kerentanan baru.

Inilah titik krusial yang sering diabaikan dalam perencanaan keuangan keluarga: risiko hidup. Kecelakaan, sakit kritis, atau kehilangan pencari nafkah utama dapat menghentikan seluruh rencana pendidikan dalam sekejap. Tanpa sistem perlindungan, dana pendidikan hanyalah angka di atas kertas.

Pendekatan yang lebih matang menempatkan asuransi sebagai bagian dari manajemen risiko, bukan sekadar produk pelengkap. Asuransi berfungsi menjaga kesinambungan rencana, memastikan pendidikan anak tetap berjalan meskipun kondisi finansial keluarga berubah drastis. Dalam bahasa sederhana: proteksi adalah jaring pengaman bagi mimpi jangka panjang.

Menjawab kebutuhan ini, Sun Life Indonesia menghadirkan Asuransi Sun Prosperity Prime (Si Super), solusi yang dirancang untuk menyatukan aspek perencanaan, fleksibilitas, dan perlindungan dalam satu kerangka. Produk ini menawarkan Annual Cash Benefit sejak tahun pertama polis—fitur yang relevan bagi orang tua yang membutuhkan arus kas terencana untuk biaya pendidikan, tanpa harus membongkar tabungan utama.

Keunggulan lainnya terletak pada struktur plan yang mengikuti fase kehidupan anak. Super Start, Super Growth, dan Super Maxima memungkinkan orang tua menyesuaikan strategi pendanaan dengan jenjang pendidikan, mulai dari usia dini hingga perguruan tinggi, termasuk studi luar negeri. Fleksibilitas mata uang rupiah dan dolar AS mencerminkan realitas keluarga modern yang semakin global dalam memandang pendidikan.

Lebih dari sekadar produk finansial, pendekatan ini mengajarkan satu hal penting dalam literasi keuangan: masa depan anak tidak dibangun dengan keputusan impulsif, melainkan dengan sistem. Sistem yang memadukan disiplin menyisihkan dana, strategi pertumbuhan yang realistis, dan perlindungan terhadap risiko hidup.

Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian, orang tua tidak dituntut menjadi ahli keuangan. Namun, mereka perlu cukup cerdas untuk menyadari bahwa pendidikan anak adalah investasi terpenting—dan seperti investasi lainnya, ia membutuhkan perencanaan yang sadar, terukur, dan terlindungi.

Itulah esensi manajemen keuangan keluarga modern: bukan sekadar mampu membayar sekolah hari ini, tetapi memastikan anak tetap bisa bermimpi esok hari. (Herman Effendi / Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *