Beritakota.id, Jakarta — Gelombang konflik berskala besar mengguncang kawasan Timur Tengah setelah operasi militer yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel menargetkan wilayah Republik Islam Iran, memicu respons rudal balasan Iran ke Israel dan pangkalan militer AS di Teluk Persia. Konflik ini kemudian menuai kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat internasional, termasuk organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah.

Puncak eskalasi terjadi pada 28 Februari 2026, ketika pasukan udara Israel bersama militer AS melancarkan serangan terkoordinasi ke sejumlah sasaran strategis di Teheran dan kota-kota lain di Iran dalam operasi yang diumumkan secara publik oleh Presiden AS. Serangan itu menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur komando, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama beberapa tokoh militer tinggi Teheran.

Baca juga : Pasar Global Diliputi Ketegangan, Emas Menembus $5400

Dalam hitungan jam, respons Iran datang melalui gelombang serangan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas yang menjadi basis operasi angkatan laut Amerika. Serangan balasan Iran tidak hanya diarahkan ke target Israel, tetapi juga ke aset militer AS di Bahrain dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi personel Amerika berada.

Beberapa laporan menyebut Tehran dan kota-kota lain telah mengalami serangan udara besar-besaran selama 24 jam berturut-turut, dengan puluhan hingga ratusan ledakan terdengar di berbagai provinsi. Sementara itu, laporan terbaru dari pihak Iran mengindikasikan bahwa lebih dari 200 warga tewas dan ratusan lainnya terluka, termasuk akibat serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar di kawasan selatan Iran, yang menewaskan banyak anak-anak.

Di pihak Israel, otoritas setempat mengakui sejumlah warga sipil tewas dan luka-luka akibat serangan balasan rudal dari Iran, khususnya di wilayah Tel Aviv dan pusat-pusat populasi lainnya. Serangan balasan Iran juga mengenai pangkalan AS di beberapa titik, meskipun laporan resmi pihak Amerika menyebutkan bahwa kerusakan lebih banyak terjadi pada fasilitas daripada korban jiwa di pihak militer AS.

Konflik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik internasional menyusul gagalnya negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran beberapa pekan sebelumnya, serta tuduhan berulang Amerika Serikat terhadap program militer Iran yang dianggap menjurus pada ambisi nuklir. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara global bahwa bentrokan ini bisa melebar menjadi konfrontasi lebih luas yang melibatkan aktor-aktor lain di kawasan.

Mengamati situasi yang berkembang tajam tersebut, Muhammadiyah melalui Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, secara tegas mengecam serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip dasar hubungan antarnegara yang diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Muhammadiyah juga menyampaikan belasungkawa kepada korban tewas, termasuk warga sipil dan tokoh masyarakat yang terjebak dalam konflik ini.

Dalam pernyataannya pada Senin (02/03/2026), organisasi Islam ini mendorong agar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kerja Sama Islam mengambil langkah tegas untuk membantu mengakhiri kekerasan di kawasan dan mendorong dialog sebagai jalan keluar. Muhammadiyah sekaligus menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menindaklanjuti jalur diplomasi sebagai upaya meredakan ketegangan.

Pernyataan sikap Muhammadiyah ini penting bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga sebagai bagian dari suara moral dunia Islam. Sebagai organisasi yang dikenal luas dengan jaringan internasional dan basis massa signifikan di Indonesia, pernyataan sikapnya memiliki pengaruh simbolik yang dapat memengaruhi diskursus tentang keadilan, kedaulatan, dan perdamaian.

Organisasi ini berada di posisi unik untuk menyuarakan prinsip-prinsip hukum internasional dan kemanusiaan, terutama ketika konflik berskala besar melibatkan aktor global. Dalam konteks geopolitik saat ini, kritik dan seruan perdamaian dari organisasi Muslim yang independen dapat memperkuat tekanan moral terhadap negara-negara kuat agar bertindak sesuai dengan norma-norma internasional serta mendorong dialog antara pihak yang berkonflik. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *