Beritakota.id Sibolga — Deru alat berat terdengar di sepanjang tepi Sungai Aek Doras, ketika tim dari Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pengerukan sedimen yang menumpuk pascabanjir. Upaya ini dilakukan untuk mencegah risiko banjir yang mengancam permukiman di wilayah pesisir Kota Sibolga. Langkah ini merupakan bagian dari operasi pemulihan infrastruktur air pascabencana yang lebih luas, menyusul hujan lebat dan banjir yang sebelumnya menutup alur sungai dan memicu kekhawatiran akan limpasan air kembali saat musim hujan.
Pada Jumat (23/1/2026), Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau langsung pengerukan Sungai Aek Doras, sebuah sungai sempit namun vital yang kapasitasnya menurun drastis akibat penumpukan sedimen. Menurut para pejabat, kondisi ini membuat aliran air melambat dan meningkatkan potensi luapan ke kawasan permukiman.
“Penumpukan sedimen harus segera ditangani agar sungai kembali berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Dody saat meninjau lokasi. “Normalisasi ini krusial untuk mengurangi risiko banjir sekaligus memberi rasa aman bagi masyarakat setempat.”
Insinyur dari Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II Medan menjelaskan, alur sungai telah berubah signifikan pascabanjir, menyempit dan memperlambat aliran air. Pengerukan, penataan ulang alur, dan pengangkutan sedimen menjadi langkah-langkah yang ditempuh untuk mengembalikan kapasitas alami sungai.
Baca juga : Rekor Terpecah! Harga Emas Antam Anjlok Tajam Usai Capai Puncak Tertinggi Sepanjang Masa
Untuk mempercepat pekerjaan, pemerintah menurunkan sejumlah alat berat, termasuk beberapa unit excavator, bulldozer, dan dump truck, yang beroperasi hampir terus-menerus di sepanjang tepi sungai. Pihak kementerian menegaskan bahwa ini merupakan langkah mitigasi jangka pendek, sambil menyiapkan rencana pengelolaan sungai yang lebih komprehensif.
Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di Indonesia, di mana topografi yang curam, deforestasi, dan curah hujan yang tidak menentu meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor. Dalam beberapa tahun terakhir, ekstrem cuaca terkait perubahan iklim menambah tekanan pada infrastruktur air yang sudah menua, memaksa pemerintah berada dalam siklus darurat dan perbaikan.
Selain Sungai Aek Doras, Kementerian PU juga menormalisasi sungai lain yang terdampak banjir, antara lain Aek Habil, Aek Tukka, Aek Hajoran, Aek Garoga, dan Sungai Batang Toru. Setiap lokasi mendapatkan peralatan khusus untuk mempercepat pengerukan sedimen dan pembersihan kayu besar yang terseret banjir.
Dalam kunjungannya, Menteri Dody menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan, memperingatkan bahwa solusi sementara tidak akan cukup tanpa pengelolaan sungai jangka panjang yang komprehensif. (Lukman Hqeem)

