Beritakota.id, Brebes – Seorang siswa kelas VI sekolah dasar negeri di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, berinisial A mengalami trauma setelah diduga menjadi korban perundungan oleh enam teman sekelasnya. Peristiwa itu terjadi di dalam ruang kelas pada Jumat, (10/4/2026).
Korban tak hanya mengalami trauma, tetapi juga menderita luka memar dan sempat demam tinggi hingga beberapa hari absen dari sekolah.
Kepala SDN Kubangjati 03, Azzi Machwati, mengatakan peristiwa perundungan terjadi saat kondisi kelas kosong. Salah satu siswa berinisial D disebut sebagai pelaku utama yang memicu aksi perundungan.
“D memaksa lima teman lainnya untuk ikut membully korban di dalam kelas. Setelah guru keluar, pintu kelas ditutup lalu korban dibully,” kata Azzi, Kamis, (17/4).
Menurut dia, lima siswa lain terlibat karena berada di bawah tekanan. Mereka, kata Azzi, diancam oleh D jika menolak ikut dalam aksi tersebut.
“Mereka dipaksa ikut. Kalau tidak mau, diancam akan dipukul,” ujarnya.
Azzi mengungkapkan, kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Sekolah sebelumnya telah beberapa kali menangani kasus serupa yang melibatkan siswa yang sama.
“Ini bukan yang pertama. Sudah lebih dari tiga kali dengan korban yang sama, dan kalau dengan korban lain sudah sekitar lima kali kejadian,” ucapnya.
Pihak sekolah kemudian memanggil orang tua atau wali murid dari kedua belah pihak untuk melakukan mediasi. Dari pertemuan itu, terungkap dugaan motif perundungan berkaitan dengan sikap korban yang kerap menolak ajakan pelaku.
“Korban sering tidak mau diajak bermain. Bahkan saat bulan puasa, korban menolak diajak ke rumah pelaku karena kegiatannya dari pagi sampai sore dan membuatnya meninggalkan salat. Korban juga menolak ajakan untuk membatalkan puasa,” kata Azzi.
Sekolah juga menduga perilaku pelaku dipengaruhi kondisi keluarga. D diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibunya bekerja di luar negeri dan ayahnya telah meninggal dunia.
“Di rumah sering ditinggal nenek berjualan, sehingga diduga kurang mendapat perhatian,” ujar Azzi.
Pasca kejadian, kondisi korban berangsur membaik meski masih mengalami trauma. Ia mulai kembali bersekolah, namun belum sepenuhnya merasa aman di dalam kelas.
“Kalau masuk kelas harus menunggu gurunya dulu karena masih trauma,” kata Azzi.
Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3KB) Brebes, Eni Listiana, mengatakan pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap korban dan keluarga.
“Kami sudah mendatangi keluarga korban untuk penguatan dan pendampingan,” ujar Eni.
Ia menambahkan, tim DP3KB juga telah berkoordinasi dengan pihak sekolah. Meski kasus ini disebut telah diselesaikan secara kekeluargaan, pengawasan tetap dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
“Kami tetap melakukan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang. Tim perlindungan anak akan terus memantau,” kata dia.

