Berita Kota, Jakarta – Tayangan Mens Rea yang dibawakan komika Pandji Pragiwaksono menuai gelombang protes dari kalangan Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) dan Pemuda Muhammadiyah. Sekitar 1.000 massa yang tergabung dalam Angkatan Muda NU (AMNU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah (AMM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Jakarta Pusat, Rabu (7/1/2026).

Para demonstran menilai tayangan Mens Rea yang ditayangkan melalui platform Netflix tersebut tidak lagi mengedepankan komedi yang sehat dan edukatif. Materi yang disampaikan dinilai mengandung unsur rasisme, body shaming, ujaran kebencian, fitnah, serta merendahkan kelompok masyarakat tertentu, khususnya organisasi keagamaan besar seperti NU dan Muhammadiyah.

Koordinator aksi, Rizki Abdul Rahman Wahid, mengatakan konten tersebut berpotensi memecah belah persatuan bangsa dan menyesatkan opini publik.

“Pandji telah menodai nilai-nilai komedi dengan melontarkan materi yang rasis, menggiring opini tanpa dasar yang jelas, serta merendahkan identitas dan kapasitas NU dan Muhammadiyah,” ujar Rizki dalam orasinya.

Rizki juga menyoroti pernyataan Pandji yang menuding adanya praktik politik balas budi antara NU dan Muhammadiyah dengan pemerintah terkait pengelolaan tambang. Menurutnya, tudingan tersebut merupakan fitnah dan mencerminkan kesalahpahaman serius terhadap peran dua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

“Narasi bahwa dukungan politik NU dan Muhammadiyah ditukar dengan pengelolaan tambang adalah tuduhan yang merendahkan dan sarat kebencian. Pernyataan seperti ini berpotensi menyesatkan umat,” tegas Rizki, yang juga merupakan kader NU.

Hal senada disampaikan Ketua Aliansi Muda Muhammadiyah (AMM), Laode. Ia menyayangkan penggunaan NU dan Muhammadiyah sebagai bahan candaan dalam tayangan tersebut.

“NU dan Muhammadiyah adalah rumah besar umat Islam yang selama ini berperan menjaga akal sehat, moral, dan kehidupan kebangsaan. Kritik dan humor tentu boleh disampaikan, tetapi ketika menyentuh simbol keumatan, harus dilakukan secara bijak agar tidak melukai dan mengaburkan substansi hukum yang dibahas,” kata Laode.

Usai berunjuk rasa di depan Kantor Komdigi, massa melanjutkan aksi ke Kantor KPI Pusat di Jalan Ir. H. Juanda, Gambir, Jakarta Pusat. Dalam aksi tersebut, para demonstran menyampaikan sejumlah tuntutan.

Mereka mendesak pemerintah dan Komdigi untuk mengambil langkah tegas terhadap platform Netflix agar media digital tidak menjadi ruang penyebaran konten yang memicu polarisasi sosial. Massa juga meminta KPI meningkatkan pengawasan terhadap konten digital yang dinilai berpotensi merusak harmoni kebangsaan.

Selain itu, massa menuntut Pandji Pragiwaksono menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada NU, Muhammadiyah, dan masyarakat luas, serta bertanggung jawab atas pernyataannya yang dinilai memicu kegaduhan dan perpecahan.

Tak hanya itu, para demonstran juga meminta aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan atas dugaan tindak pidana ujaran kebencian, penghasutan, rasisme, fitnah, serta propaganda yang berpotensi memecah belah bangsa.

Massa menegaskan kebebasan berekspresi harus dijalankan seiring dengan tanggung jawab moral, hukum, dan nilai-nilai kebangsaan demi menjaga persatuan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *