Beritakota.id, Jakarta – Di tengah arus transformasi digital yang kian tak terhindarkan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau Perpusnas menegaskan kembali posisinya sebagai institusi pengetahuan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Melalui penguatan layanan digital iPusnas, Perpusnas tidak sekadar melakukan pembaruan teknis, tetapi sedang membangun fondasi baru layanan perpustakaan nasional yang relevan di era Internet of Things (IoT), ketika akses informasi dituntut serba cepat, aman, dan tanpa batas ruang.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (26/2), Perpusnas menyampaikan bahwa penguatan sistem iPusnas dilakukan melalui pembaruan arsitektur teknologi, migrasi data, serta peningkatan sistem keamanan. Penyesuaian ini menjadi respons atas lonjakan kebutuhan masyarakat terhadap layanan membaca digital yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Di era ketika gawai telah menjadi “perpustakaan saku”, ketahanan sistem digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Baca juga : Perpusnas Manfaatkan AI Jaga Bahasa dan Literasi

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen menghadirkan layanan pengetahuan digital yang aman, stabil, dan berkelanjutan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan akses yang sempat terjadi selama proses penguatan berlangsung. Proses tersebut, menurutnya, dilakukan secara terukur agar kualitas layanan meningkat secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam.

Digitalisasi layanan melalui iPusnas membawa implikasi besar terhadap kepuasan pengguna. Dengan koleksi mencapai 134.309 judul dan 1.480.649 salinan digital, serta tambahan 770.106 pengguna baru sepanjang 2025, aplikasi ini telah menjelma menjadi salah satu kanal literasi digital terbesar di Indonesia. Akses yang fleksibel, sistem peminjaman daring, hingga fitur Digital Rights Management (DRM) memastikan keseimbangan antara hak pembaca, penulis, dan penerbit tetap terjaga. Ketika sistem semakin stabil dan aman, pengalaman pengguna pun meningkat—mulai dari kecepatan akses, kenyamanan membaca, hingga rasa aman terhadap data pribadi.

Tak kalah penting, penguatan ini juga mencerminkan profesionalisme dalam manajemen operasional perpustakaan nasional. Migrasi sistem dan pengujian keamanan yang dilakukan dengan pendampingan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan bahwa tata kelola digital Perpusnas bergerak menuju standar keamanan siber yang lebih tinggi. Dalam konteks manajemen modern, digitalisasi justru membuat operasional lebih efisien: pengelolaan koleksi dapat dipantau secara real time, analisis perilaku baca pengguna dapat diolah berbasis data, dan distribusi konten menjadi lebih terukur.

Transformasi ini juga mengubah paradigma perpustakaan dari sekadar ruang fisik menjadi ekosistem pengetahuan berbasis teknologi. Layanan lain seperti BintangPusnas Edu, e-Resources, Khastara, hingga chatbot Tanya Pustakawan tetap berjalan normal, memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak mematikan layanan konvensional, melainkan melengkapinya. Integrasi layanan daring dan luring menjadi model hibrida yang semakin relevan di tengah mobilitas masyarakat urban dan penetrasi internet yang kian luas.

Dalam jangka panjang, digitalisasi operasional memberi dampak strategis bagi Perpusnas. Efisiensi distribusi koleksi, penghematan biaya logistik, serta perluasan jangkauan layanan hingga daerah terpencil adalah beberapa manfaat nyata. Lebih dari itu, data digital memungkinkan pengambilan kebijakan berbasis evidensi—mulai dari kurasi koleksi, pola pengadaan buku, hingga strategi literasi nasional.

Di era IoT, ketika perangkat saling terhubung dan informasi bergerak dalam hitungan detik, perpustakaan nasional dituntut menjadi institusi yang lincah dan responsif. Penguatan iPusnas adalah bagian dari adaptasi tersebut. Digitalisasi bukan sekadar tren teknologi, melainkan strategi keberlanjutan. Dengan sistem yang semakin andal dan aman, Perpusnas tak hanya meningkatkan kepuasan pengguna, tetapi juga memperkuat fondasi manajemen operasionalnya.

Ke depan, komitmen Perpusnas untuk memperkuat literasi digital masyarakat menjadi semakin krusial. Literasi tidak lagi berhenti pada kemampuan membaca, melainkan pada kecakapan memanfaatkan teknologi secara etis, produktif, dan bertanggung jawab. Dalam konteks itu, iPusnas bukan hanya aplikasi, tetapi gerbang menuju ekosistem pengetahuan nasional yang lebih inklusif dan modern. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *