Beritakota.id, Jakarta – Di tengah dominasi film aksi modern yang semakin bergantung pada efek visual digital, kamera yang bergerak terlalu cepat, dan potongan gambar yang nyaris tidak memberi ruang bagi penonton untuk menikmati koreografi pertarungan, The Furious hadir seperti sebuah pernyataan perang. Film garapan sutradara Jepang, Kenji Tanigaki, bukan sekadar film aksi tentang balas dendam. Ia adalah surat cinta kepada tradisi film laga Hong Kong yang pernah mendominasi dunia melalui nama-nama seperti Bruce Lee, Jackie Chan, hingga Sammo Hung.
Kisahnya sederhana. Wang Wei (Xie Miao), seorang ayah bisu, kehilangan putrinya yang diculik jaringan perdagangan manusia. Polisi yang korup tidak memberi bantuan. Dalam keputusasaan, ia memilih menempuh jalannya sendiri. Di tengah pencarian itu, ia bertemu Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang istrinya hilang secara misterius saat mengungkap sindikat yang sama.
Baca juga : Review Film Colony; Ketakutan Yang Tak Pernah Mati
Dari sinilah The Furious bergerak. Bukan sebagai film investigasi. Bukan pula drama keluarga. Melainkan sebagai ledakan kemarahan yang terus meningkat dari menit ke menit. Hal ini membuat The Furious berbeda adalah bagaimana emosinya dibangun.
Wang Wei tidak memiliki dialog. Hampir seluruh emosinya disampaikan melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan fisik. Pilihan ini terdengar berisiko, tetapi justru menjadi kekuatan terbesar film. Xie Miao berhasil membuat penonton memahami rasa kehilangan, kemarahan, dan ketakutan seorang ayah tanpa harus mengucapkan satu kata pun.
Di sisi lain, Joe Taslim menghadirkan karakter Navin yang menjadi penyeimbang. Jika Wang Wei adalah amarah yang membara, maka Navin adalah nurani yang masih berusaha berpikir rasional. Chemistry keduanya membangun dinamika yang membuat film tetap hidup di sela-sela rentetan adegan perkelahian brutal.
Namun alasan utama orang akan datang menonton film ini tentu saja adalah aksinya. Dan di sinilah The Furious benar-benar bersinar. Setiap pukulan terasa sakit. Setiap tendangan memiliki bobot. Tidak ada kesan “superhero”. Tidak ada manusia yang terbang tanpa alasan. Yang ada adalah tubuh-tubuh yang bertabrakan, jatuh, berdarah, bangkit, lalu kembali bertarung. Film ini mengingatkan mengapa aksi praktikal masih memiliki daya magis yang sulit ditiru komputer.
Menghidupkan Kembali Film Aksi Bela Diri Asia
Produser legendaris Bill Kong memulai proyek ini dengan satu kalimat sederhana “Let’s make the ultimate martial arts film.” Kalimat tersebut menjadi fondasi seluruh produksi. Kong merasa film bela diri Asia telah kehilangan posisi dominannya selama lebih dari satu dekade sejak fenomena The Raid mengguncang dunia pada 2011. Baginya, dunia masih merindukan film laga yang mengandalkan keterampilan manusia nyata, bukan manipulasi digital.
Karena itu ia menunjuk Kenji Tanigaki sebagai sutradara. Ini merupakan pilihan yang masuk akal. Tanigaki adalah figur unik yang menghubungkan Jepang, Hong Kong, dan Tiongkok. Ia pernah menjadi bagian penting dari tim aksi Donnie Yen dan dikenal lewat karya-karya seperti Rurouni Kenshin serta Twilight of the Warriors: Walled In.
Pendekatan produksinya sangat sederhana bahwa setiap “Aksi harus dilakukan sungguhan”. Karena itu sebagian besar adegan perkelahian direkam menggunakan long take dengan minim potongan kamera. Para aktor diwajibkan berlatih seperti sedang melakukan pengambilan gambar sesungguhnya. Bahkan adegan sederhana yang sebenarnya bisa dibuat dengan CGI tetap dikerjakan secara praktikal.
Menariknya, setiap karakter dikembangkan berdasarkan latar belakang bela diri asli para pemerannya. Wang Wei menggunakan kombinasi wushu dan teknik tubuh jarak dekat. Navin menggunakan dasar judo yang merefleksikan latar belakang Joe Taslim sebagai juara judo nasional Indonesia. Tak (Yayan Ruhian) mempertahankan karakteristik Pencak Silat yang eksplosif. Sementara karakter lain membawa unsur Muay Thai, Taekwondo, hingga karate Jepang.
Pendekatan ini membuat setiap pertarungan terasa unik. Penonton bukan hanya melihat siapa menang atau kalah. Mereka melihat benturan filosofi bela diri yang berbeda. Puncaknya adalah saat adegan pertarungan lima karakter utama secara simultan selama hampir dua puluh menit, sesuatu yang oleh koreografer aksi Kensuke Sonomura disebut sebagai salah satu tantangan terbesar sepanjang kariernya.
Reuni Joe “Jaka” Taslim & Yayan “Mad Dog” Ruhian
Bagi penonton Indonesia, The Furious memiliki daya tarik tambahan. Film ini mempertemukan kembali dua nama yang pernah menjadi bagian penting dalam fenomena global The Raid. Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Meski tidak banyak berbagi adegan seperti dulu, kehadiran keduanya membawa nuansa nostalgia yang sulit diabaikan.
Joe kini telah berkembang menjadi bintang internasional. Dari Fast & Furious 6, Star Trek Beyond, hingga Mortal Kombat, ia membangun reputasi sebagai aktor laga yang tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik tetapi juga pengembangan karakter. Dalam catatan produksi, Joe bahkan disebut sangat selektif memilih proyek dan menganggap tim kreatif The Furious sebagai “dream team.” Karakter Navin yang ia mainkan menjadi salah satu elemen emosional terkuat dalam film. Ia bukan petarung yang sekadar menghajar musuh. Ia seorang jurnalis yang kehilangan istrinya dan terus berusaha mencari kebenaran di tengah sistem yang rusak.
Sementara itu, Yayan Ruhian kembali memainkan sosok antagonis yang mengancam. Kehadirannya mungkin tidak mendominasi durasi film, tetapi setiap kemunculannya memiliki intensitas yang membuat penonton sulit mengalihkan perhatian.
Menariknya, keduanya merepresentasikan perjalanan perfilman Indonesia dalam dua dekade terakhir. Mereka datang dari akar yang sama: komunitas film aksi independen yang dulu bekerja dengan sumber daya terbatas.
Kini nama mereka berada dalam produksi internasional bersama aktor dari Tiongkok, Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat. Di dalam The Furious, Joe Taslim dan Yayan Ruhian bukan sekadar aktor Indonesia yang bermain di luar negeri. Mereka adalah bukti bahwa bahasa aksi tidak mengenal batas negara.
Ketika film berakhir, mungkin itulah kesan terbesar yang tertinggal. Bahwa di tengah perubahan industri yang begitu cepat, Asia masih memiliki sesuatu yang tidak bisa digantikan teknologi bahwa manusia, tubuh, emosi, dan keberanian untuk bertarung sungguhan di depan kamera. Skor : 8,5/10. (Lukman Hqeem)

