Beritakota.id, Jakarta – Regurgitasi atau gumoh pada bayi kerap menimbulkan kekhawatiran berlebih di kalangan orang tua. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai penyakit serius, padahal secara medis regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) merupakan kondisi fisiologis yang umum terjadi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan bayi.
Isu tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Media Gathering & Health Talk yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro dengan tema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan”. Acara ini berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, pukul 11.30 WIB, bertempat di Gala Room, Sutasoma Hotel at The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta, dan dihadiri oleh sejumlah rekan media.
Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari, MARS, dalam sambutannya menegaskan bahwa edukasi kesehatan anak berbasis bukti ilmiah merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Peran media sangat penting dalam menyampaikan informasi kesehatan yang akurat dan berimbang kepada masyarakat, khususnya kepada para orang tua, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada kecemasan berlebih maupun penanganan yang tidak tepat,” ujar dr. Relia.
Berdasarkan data klinis yang dipaparkan, sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan, dan umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan. Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yakni bayi yang tetap ceria, menyusu dengan baik, serta mengalami pertumbuhan normal meskipun sering gumoh.
Namun, kondisi tersebut perlu dibedakan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang bersifat patologis dan relatif jarang terjadi. Prevalensi GERD pada anak diperkirakan hanya sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara terlalu sering atau berlangsung lama, sehingga berpotensi menimbulkan peradangan esofagus (esofagitis) serta komplikasi serius.
Baca juga: Layanan Ortopedi RS Premier Bintaro Berteknologi Mutakhir
Komplikasi GERD pada anak dapat berupa gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi disertai darah, hingga penurunan kualitas hidup anak.
Sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menekankan bahwa tantangan terbesar dalam praktik klinis adalah membedakan regurgitasi fisiologis dengan GERD.
“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa adanya tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelas Prof. Badriul.
Prof. Badriul Hegar dikenal sebagai salah satu pakar terkemuka di Indonesia di bidang gastroenterologi dan hepatologi anak, dengan pengalaman luas dalam praktik klinis, pendidikan, dan penelitian, serta aktif sebagai pembicara di berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional.
Dalam sesi diskusi juga disampaikan bahwa regurgitasi berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak selalu menandakan GERD, karena kondisi tersebut juga dapat ditemukan pada bayi yang sehat. Oleh sebab itu, diperlukan evaluasi medis yang cermat untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti alergi protein susu sapi, sebelum menegakkan diagnosis GERD.
Penatalaksanaan awal regurgitasi dan GER pada bayi umumnya bersifat non-farmakologis, meliputi edukasi kepada orang tua, melanjutkan pemberian ASI, menghindari overfeeding, pengaturan posisi bayi, serta penggunaan susu formula yang ditebalkan bila diperlukan. Pemberian obat bukan merupakan terapi lini pertama dan hanya dipertimbangkan pada kasus GERD yang telah terkonfirmasi secara medis.
Melalui kegiatan ini, RS Premier Bintaro menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan anak yang komprehensif dan berbasis ilmiah, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan media dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. (***)

