Beritakota.id, Jakarta — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap menggeser nilai-nilai budaya lokal, sebuah inisiatif pendidikan berbasis komunitas hadir membawa pendekatan baru. Rumah Belajar Hamonangan Kita Semua resmi diluncurkan pada Minggu (3/5/2026) sebagai pusat pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi digital dengan pelestarian budaya Nusantara.
Program ini dirancang untuk peserta didik mulai dari kelas 4 SD hingga kelas 12 dengan sistem blended learning, yaitu kombinasi pembelajaran tatap muka dan digital. Setiap peserta mengikuti satu kali pertemuan langsung setiap minggu selama 120 menit, dilengkapi dengan sistem evaluasi berkala berupa sertifikat triwulanan yang dapat dipantau orang tua.
Pendiri program, Hudson Elbert Sinaga, menjelaskan bahwa inisiatif ini berfokus pada penguatan literasi digital sekaligus pelestarian budaya. Peserta didik dibekali keterampilan menggunakan internet secara aman, produktif, dan beretika, termasuk kemampuan memilah informasi hoaks, menjaga keamanan data pribadi, serta membuat presentasi digital yang efektif.
Mengusung filosofi “Hamonangan” yang berarti kemenangan atau kebaikan bersama dalam budaya Batak, program ini berkomitmen menghadirkan pendidikan inklusif yang memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kompetensi global generasi muda.
“Di tengah tantangan digitalisasi dan pelestarian budaya, diperlukan ekosistem pembelajaran yang adaptif namun tetap berakar. Program ini hadir sebagai respons atas kebutuhan tersebut,” ujar Hudson.
Sejumlah program strategis turut dihadirkan, di antaranya Kelas Bahasa Jepang Reguler yang dibuka gratis bagi peserta terpilih usia 15–25 tahun. Program ini mencakup pembelajaran percakapan dasar (kaiwa), penguasaan huruf hiragana dan katakana, serta pemahaman lintas budaya Indonesia–Jepang dengan pengajar native speaker.
Baca juga: Rumah Belajar YAICI Masuk Nominasi Finalis Grassroots Innovation
Selain itu, tersedia Digital Learning Hub yang memberikan akses terbuka terhadap materi literasi digital, pemrograman dasar, dan keterampilan teknologi. Program ini juga dilengkapi Pusat Kajian Kebudayaan yang menghadirkan lokakarya serta diskursus kearifan lokal, serta Pusat Layanan Magang & Kerja untuk mendampingi pelajar yang ingin magang atau bekerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang.
Dalam pelaksanaannya, program ini berkolaborasi dengan Yayasan Hati Kita Serupa serta para relawan pengajar dan tokoh masyarakat. Dukungan juga datang dari August Hamonangan, Raymond Sinaga, serta Yenny Sucipto.
Acara peluncuran sekaligus dimulainya kegiatan belajar mengajar digelar di Sekretariat Yayasan Hati Kita Serupa, Jalan Pengadegan Utara, Jakarta Selatan, dan turut diiringi pembelajaran langsung di sejumlah lokasi yang telah dipetakan sebelumnya.
Hudson menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi hak kolektif yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
“Filosofi ‘Hamonangan Kita Semua’ menegaskan bahwa kemajuan adalah hak bersama. Generasi muda harus mampu menguasai kompetensi global tanpa kehilangan akar budayanya,” ungkapnya.
Dengan semangat kolaborasi dan inklusivitas, Rumah Belajar Hamonangan Kita Semua diharapkan menjadi wadah strategis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga kuat dalam identitas budaya dan siap bersaing di tingkat global. (***)

