Beritakota.id, Tangerang — Industri jual beli emas di Indonesia memasuki fase persaingan yang semakin dinamis, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap logam mulia sebagai instrumen lindung nilai.
Selama ini, pasar emas domestik didominasi oleh pemain besar dengan sistem yang relatif mapan, mulai dari lembaga pembiayaan hingga jaringan toko emas konvensional. Namun, perubahan perilaku konsumen yang semakin kritis terhadap harga dan transparansi mulai mendorong lahirnya pendekatan baru dalam industri ini. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga proses bagaimana nilai emas ditentukan, seberapa terbuka transaksi dilakukan, hingga seberapa cepat layanan diberikan.
Di tengah perubahan tersebut, sejumlah pelaku usaha mulai menawarkan model bisnis yang mengedepankan transparansi dan efisiensi. Salah satunya ditunjukkan oleh Jual Emas Indonesia, yang baru saja membuka gerai di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Jumat (10/4/2026).
Founder Jual Emas Indonesia, Benjamin Master Adhisurya, mengatakan bahwa tantangan utama di industri ini bukan semata harga, melainkan kepercayaan. “Pasar sekarang sudah berubah. Konsumen ingin proses yang jelas dan bisa mereka lihat langsung,” ujarnya.
Baca juga: Harga Emas Antam Anjlok Rp42.000 Hari Ini, Buyback Ikut Turun
Pendekatan tersebut diterapkan melalui sistem pengecekan terbuka, di mana pelanggan dapat menyaksikan secara langsung proses pengujian kadar emas.
Selain itu, perusahaan juga menawarkan harga yang diklaim kompetitif melalui strategi margin tipis dan volume transaksi tinggi.
Model ini berbeda dengan praktik konvensional yang cenderung mengandalkan margin lebih besar dalam setiap transaksi.
Founder lainnya, Juan Sen, menambahkan bahwa fleksibilitas juga menjadi bagian dari strategi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Perusahaan menerima emas dalam berbagai kondisi, termasuk yang rusak atau tanpa dokumen resmi. “Selama ada kandungan emasnya, tetap bisa dinilai. Itu yang menjadi dasar,” kata dia.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi mulai menjadi pembeda di industri ini. Jual Emas Indonesia menggunakan teknologi X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menguji kandungan emas secara cepat dan presisi tanpa merusak fisik.
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai bahwa perubahan model bisnis di sektor ini merupakan respons terhadap meningkatnya literasi konsumen.
“Konsumen sekarang lebih rasional dan membandingkan banyak opsi. Transparansi dan efisiensi menjadi nilai tambah yang signifikan,” ujarnya.
Menurut dia, di tengah fluktuasi harga emas global, pelaku usaha yang mampu memberikan kepastian harga dan proses yang jelas akan memiliki keunggulan kompetitif.
“Selama ini ada kesenjangan informasi antara penjual dan pembeli. Ketika itu dipersempit, kepercayaan akan terbentuk,” kata Bhima.
Respons pasar terhadap pendekatan baru ini mulai terlihat. Sejumlah konsumen disebut bersedia datang dari luar kota demi mendapatkan harga yang lebih kompetitif dan proses yang lebih transparan.
Ke depan, Jual Emas Indonesia menargetkan ekspansi hingga 100 gerai di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026. Strategi ini dinilai penting untuk memperluas akses, mengingat faktor kedekatan lokasi masih menjadi pertimbangan utama dalam transaksi emas. Selain ekspansi, perusahaan juga tengah menyiapkan layanan gadai emas yang masih dalam proses perizinan.
Layanan ini diharapkan dapat melengkapi ekosistem bisnis sekaligus menjawab kebutuhan likuiditas masyarakat. Di tengah persaingan yang semakin terbuka, industri emas tidak lagi hanya soal harga, tetapi juga soal kepercayaan dan pengalaman. Pelaku usaha yang mampu menggabungkan keduanya berpotensi menjadi pemain kunci dalam lanskap baru bisnis emas di Indonesia

