Jakarta, Beritakota.id – Tidak semua wisatawan lagi mengejar destinasi yang ramai dikunjungi. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul perubahan menarik pada perilaku pelancong Indonesia. Semakin banyak wisatawan justru mencari tempat-tempat yang belum terlalu populer, memiliki suasana lebih tenang, menawarkan pengalaman autentik, dan jauh dari keramaian.

Fenomena tersebut melahirkan istilah hidden gem, yakni destinasi wisata yang relatif belum banyak dikenal, tetapi memiliki daya tarik alam, budaya, maupun sejarah yang tidak kalah dibanding tujuan wisata utama.

Tren ini diperkirakan terus menguat pada 2026 seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman perjalanan yang lebih personal, berkelanjutan, dan mudah dibagikan melalui media sosial.

Pariwisata Indonesia Memasuki Babak Baru

Kebangkitan sektor pariwisata Indonesia tidak lagi hanya diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan. Yang berubah adalah cara wisatawan memilih tujuan perjalanan. Jika sebelumnya destinasi populer seperti Bali, Yogyakarta, atau Bandung menjadi pilihan utama, kini banyak wisatawan mulai melirik desa wisata, pantai tersembunyi, kawasan geopark, hutan pinus, hingga kampung budaya yang menawarkan pengalaman berbeda.

Kementerian Pariwisata secara konsisten mendorong pengembangan desa wisata, ekowisata, serta destinasi berbasis masyarakat sebagai bagian dari strategi pemerataan manfaat ekonomi pariwisata. Pendekatan tersebut bukan hanya bertujuan menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan langsung masyarakat dalam pengelolaan destinasi.

Perubahan pola perjalanan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube membuat sebuah lokasi yang sebelumnya hanya dikenal masyarakat sekitar dapat menjadi tujuan wisata nasional hanya dalam hitungan minggu.

Namun di sisi lain, banyak wisatawan kini justru menghindari tempat yang dianggap terlalu ramai. Mereka lebih tertarik mencari lokasi yang menawarkan ketenangan, lanskap alami, budaya lokal yang masih terjaga, maupun pengalaman yang terasa lebih eksklusif. Fenomena inilah yang mendorong semakin populernya istilah hidden gem.

Baca juga : Dari Luka Tambang ke Berkah Wisata: Regenerative Tourism dan Jalan Lain Menuju Pemulihan Atas Bekas Kehancuran

Bukan Sekadar Tempat yang Indah

Sebuah hidden gem tidak selalu berarti lokasi yang belum pernah dikunjungi siapa pun. Nilai utamanya justru terletak pada pengalaman. Wisatawan ingin menikmati suasana yang lebih alami, berinteraksi dengan masyarakat lokal, mencicipi kuliner khas, hingga memahami cerita di balik sebuah destinasi.

Dengan kata lain, wisata berubah dari aktivitas “mengunjungi tempat” menjadi pengalaman yang memiliki makna. Perubahan perilaku tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi daerah-daerah yang sebelumnya belum masuk dalam peta wisata nasional.

Lima Hidden Gem yang Layak Masuk Daftar Liburan

Pantai Wedi Ireng – Banyuwangi

Terletak di pesisir selatan Banyuwangi, pantai ini menawarkan pasir putih berpadu batuan berwarna gelap yang menjadi asal namanya.

Akses yang tidak semudah pantai populer justru membuat suasananya tetap alami.

Desa Wisata Penglipuran – Bali

Meski mulai dikenal luas, desa ini tetap menjadi contoh bagaimana budaya lokal, tata ruang, dan kebersihan mampu menjadi daya tarik wisata berkelanjutan.

Geopark Ciletuh – Jawa Barat

Bentang alam purba, air terjun, hingga garis pantai yang dramatis menjadikan kawasan ini salah satu destinasi geowisata paling menarik di Indonesia.

Negeri di Atas Awan – Banten

Fenomena kabut pagi dan panorama pegunungan membuat lokasi ini menjadi favorit wisatawan yang mencari suasana berbeda tanpa harus bepergian terlalu jauh dari Jakarta.

Danau Kaco – Jambi

Danau kecil dengan air sebening kristal ini masih menjadi salah satu hidden gem terbaik di Sumatra karena keindahan alamnya yang relatif terjaga.

Tantangan di Balik Popularitas Hidden Gem

Semakin terkenal sebuah hidden gem, semakin besar pula tantangan yang dihadapi. Lonjakan wisatawan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan sampah, kerusakan lingkungan, hingga hilangnya karakter asli destinasi. Karena itu, pengembangan pariwisata berkelanjutan menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian alam maupun budaya lokal.

Konsep inilah yang kini banyak diusung pemerintah daerah bersama Kementerian Pariwisata dalam mengembangkan desa wisata dan destinasi berbasis masyarakat.  Banyak orang mengira masa depan industri pariwisata ditentukan oleh pembangunan hotel mewah atau kawasan hiburan berskala besar.

Padahal tren global menunjukkan arah yang sedikit berbeda. Wisatawan modern semakin menghargai pengalaman, keaslian budaya, interaksi dengan masyarakat lokal, serta keindahan alam yang belum kehilangan karakternya.

Hidden gem menjadi simbol perubahan tersebut. Ia bukan sekadar destinasi baru, melainkan cerminan bahwa industri pariwisata Indonesia sedang bergerak menuju model yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis komunitas.

Bagi daerah, inilah momentum untuk memperkenalkan potensi lokal tanpa kehilangan identitasnya. Sementara bagi wisatawan, akhir pekan bukan lagi sekadar mencari tempat yang indah, tetapi menemukan pengalaman yang layak dikenang. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *