Beritakota.id, Jakarta – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengungkap adanya pergeseran besar peta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia akibat dinamika geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang memukul jalur penerbangan internasional menuju Tanah Air.
Dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Alliance of The Indonesian Tours and Travel Agencies di Jakarta, Rabu (13/5/2026), Ni Luh menyebut kunjungan wisatawan asal Eropa mulai mengalami tekanan, sementara pasar Asia dan Oceania justru melonjak signifikan hingga 15-18 persen.
“Kalau kita lihat data kuartal pertama 2026, total kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 3,44 juta atau tumbuh 8 persen. Tetapi memang ada perubahan pola pasar. Wisatawan Eropa mengalami penurunan karena banyak hub penerbangan melalui Timur Tengah,” ujar Ni Luh.
Menurut dia, sekitar 11 persen jalur penerbangan internasional Indonesia masih bergantung pada hub Timur Tengah. Kondisi itu berdampak langsung terhadap mobilitas wisatawan Eropa ke Indonesia.
Namun di tengah tekanan global, pemerintah menilai strategi “pivot” ke pasar medium haul dan short haul terbukti efektif. Lonjakan wisatawan dari Asia dan Oceania menjadi penopang utama pertumbuhan sektor pariwisata nasional sepanjang awal 2026.
Baca Juga: Wamenpar Kunjungi Afrika Selatan Jalin Kerjasama Pariwisata Antarnegara
Selain wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara juga menunjukkan tren positif. Kementerian Pariwisata mencatat perjalanan wisatawan domestik mencapai 319,51 juta perjalanan atau tumbuh 13 persen pada Januari-Maret 2026.
“Kami berharap momentum ini terus terjaga pada libur sekolah Juni-Juli nanti,” katanya.

Pariwisata RI Lampaui Target RPJMN
Ni Luh juga membeberkan capaian sektor pariwisata sepanjang 2025 yang dinilai melampaui target pemerintah dalam RPJMN.
Target kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 14-15 juta berhasil ditembus menjadi 15,39 juta kunjungan. Sementara perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan.
“Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB mencapai 3,96 persen dan menopang 25,91 juta lapangan pekerjaan. Ini kerja bersama pemerintah, asosiasi, akademisi, dan seluruh stakeholder,” ujarnya.
Rata-rata pengeluaran wisatawan asing juga tercatat mencapai 1.267 dolar AS per kunjungan.
Harga Tiket Pesawat Jadi Sorotan
Dalam forum tersebut, pemerintah juga mengakui kenaikan harga avtur akibat lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus 100 dolar AS per barel turut menekan industri penerbangan dan pariwisata nasional.
Presiden Prabowo Subianto, kata Ni Luh, telah menginstruksikan berbagai stimulus agar harga tiket pesawat tidak melonjak terlalu tinggi.
Pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan seperti PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), pembebasan bea masuk suku cadang pesawat, hingga penyesuaian fuel surcharge sebesar 38 persen.
“Harga tiket memang masih naik sekitar 13 sampai 19 persen. Kami tahu ini belum maksimal dari harapan masyarakat, tetapi pemerintah terus berupaya agar tiket tetap terjangkau,” katanya.
Pemerintah Warning Agen Travel Nakal
Dalam Rakernas tersebut, Kementerian Pariwisata juga memberi perhatian serius terhadap maraknya kasus wisatawan telantar dan penipuan perjalanan wisata.
Ni Luh meminta seluruh anggota AITTA memastikan usaha biro perjalanan mematuhi regulasi dan memiliki izin resmi.
“Kita tahu ada banyak berita wisatawan ditelantarkan dan ditipu. Karena itu kami berharap seluruh anggota asosiasi comply terhadap regulasi dan perizinan,” tegasnya.
Pemerintah saat ini juga sedang menertibkan akomodasi wisata ilegal yang belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
Menurut dia, legalitas usaha menjadi faktor penting untuk menjamin keselamatan, kenyamanan wisatawan, sekaligus menciptakan persaingan usaha yang sehat.
Desa Wisata Jadi Senjata Baru Pariwisata Indonesia
Salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah pengembangan desa wisata berbasis pengalaman dan keberlanjutan.
Ni Luh menyebut tren wisata global kini bergeser menuju destinasi yang lebih personal, alami, tidak terlalu ramai, dan dekat dengan budaya lokal.
“Yang dicari wisatawan saat ini adalah experience. Karena itu desa wisata menjadi kekuatan baru Indonesia,” katanya.
Ia mengungkapkan, lima desa wisata Indonesia telah mendapatkan pengakuan global dari UN Tourism sebagai desa wisata terbaik dunia.
Kementerian Pariwisata juga tengah menyusun roadmap pengembangan desa wisata bersama enam sektor terkait agar desa wisata Indonesia semakin kompetitif di level global.
Baca Juga: AITTA Dorong Wisata Pensiunan dan Kepulauan Seribu Jadi Tren Baru
AITTA: Desa Wisata Harus Jadi Mesin Ekonomi Rakyat
Sementara itu, pada kesempatan yang sama Ketua Umum DPP Alliance of The Indonesian Tours and Travel Agencies, (AITTA) Artha Hanif, menegaskan desa wisata tidak boleh berhenti sebatas slogan atau wacana.
Menurut dia, desa wisata harus menjadi instrumen nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Biro perjalanan adalah ujung tombak yang mendekatkan wisatawan ke destinasi termasuk desa wisata. Karena itu pemerintah wajib hadir membangun infrastruktur, promosi, dan pendanaan,” ujar Artha.
Ia mencontohkan pengelolaan destinasi wisata di Jepang yang mampu mengubah kawasan sederhana menjadi magnet ekonomi berkelas dunia karena adanya keterlibatan serius pemerintah dan masyarakat.
“Hal sederhana bisa menjadi daya tarik luar biasa kalau dikonsep, dirancang, dan dipersiapkan serius,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Artha juga menegaskan bahwa AITTA merupakan transformasi dari organisasi ASITA 71 yang resmi berubah nama pada 24 Februari 2025.
“Atas nama AITTA ini Rakernas perdana, tapi semangatnya tetap semangat 71,” ujarnya.

